Tuesday , 30 September 2014

754 Anak Cacat Tidak Sekolah Di Payakumbuh, PR Buat Kadisdik Hasan Basri

Payakumbuh - Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan Pokja Pendidikan Inklusif (PPI) Payakumbuh, ternyata sebanyak 754 orang anak yang serba berkekurangan itu tidak bersekolah di kota yang berpenduduk sekitar 127 ribu jiwa ini. Ini pekerjaan rumah bagi Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh yang getol mengkampanyekan Payakumbuh sebagai Kota Pendidikan Inklusif dengan memasang baliho besar di beberapa titik di dalam kota.

Dewi Marza, S.Pd sebagai Ketua Pokja Pendidikan Inklusif Kota Payakumbuh menginformasikan, Minggu (17/2), pendataan yang dilakukan PIP selama sepekan, awal Januari lalu, dengan mengandeng pekerja sosial masyarakat (PSM) yang ada pada seluruh kelurahan di kota ini. Angka tersebut sangat akurat, karena warga kelurahan sudah dimotovasi untuk tidak menyembunyikan putera-puterinya yang terlahir cacat,” jelas Dewi.

Menurut Dewi, berdasarkan data tersebut, akan memudahkan PIP menyusun program kerja ke depan. Data dimaksud, tambahnya, akan disampaikan ke Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementerian Dikbud RI, selain kepada pimpinan di provinsi dan di kota ini.

Berdasarkan pendataan di lapangan, dari 754 anak disability itu, 494 di antaranya, pernah sekolah pada semua tingkatan pendidikan. Tapi, karena kekurangan biaya, orang tua tidak mensuport, kenakalan anak atau karena alasan lainnya, membuat 496 anak tersebut akhirnya drop out (DO). Sementara itu, 260 anak benar-benar belum pernah mengecap pendidikan sama sekali. Kenyataan ini, akan menjadi PR PIP bersama Dinas Pendidikan Payakumbuh, simpul Dewi.

Kadisdik Payakumbuh Drs. H. Hasan Basri Sy, S.Pd, ketika dihubungi, mengatakan, pendataan tersebut sebuah realita yang harus diaplikasikan dalam bentuk karya nyata. “Payakumbuh adalah Kota Pelopor Pendidikan Inklusif pertama di Indonesa. Makanya, tak ada alasan bagi Pokja dan jajaran Dikdis. Persoalan ini harus dijawab dengan tuntas. Kita akan lakukan koordinasi dengan DPRD, SKPD terkait dan stakeholder, untuk melahirkan sebuah kebijakan,” katanya.

Kehadiran Pokja, sebut Hasan, sangat membantu dalam mensosialisasikan pendidikan inklusif di Payakumbuh. Warga kota, secara bertahap telah memahami, bahwa anak-anak yang terlahir cacat itu mempunyai hak mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak normal. Tak ada perbedaan, tegas Hasan.

Karena itu, PIP telah melakukan peningkatan SDM 720 guru dengan pengetahuan inklusif. Bagaimana menghadapi anak berkebutuhan khusus itu, telah diberikan kepada 720 guru itu. Sekarang ini, di Payakumbuh sudah ada 29 SD, 4 SLTP dan 4 SLTA yang menjadi sekolah inklusif. Sedangkan, anak berkebutuhan khusus itu, yang tengah mengecap pendidikan saat ini tercatat 748 orang. Meliputi 666 pelajar SD, 10 pelajar Madrasah Ibtidaiyah, 62 pelajar SLTP, 3 pelajar SMAN, 3 SMKN, dan 2 Madrasyah Aliyah. (red)

Tinggalkan komentar Anda di sini

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes
%d bloggers like this: